Mencari keridhoan Allah swt

Tampilkan postingan dengan label sahabat nabi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sahabat nabi. Tampilkan semua postingan

Abdullah Bin Hudzafah Al Sahmy

ilustrasi

Tokoh kisah ini adalah seorang pria dari kalangan sahabat yang bernama Abdullah bin Hudzafah Al Sahmy.Sejarah dapat saja berlalu atas tokoh kita ini sebagaimana sejarah terus berlalu terhadap jutaan bangsa Arab sebelum Abdullah tanpa memberikan perhatian khusus kepada mereka. Akan tetapi Islam yang agung memberikan kesempatan kepada Abdullah bin Hudzafah Al Sahmy untuk bertemu dengan pemimpin dunia saat itu yaitu Kisra Raja Persia dan Kaisar yang agung raja Romawi.
 

Bersama dua pemimpin besar ini, Abdullah mencatat kisah yang senantiasa diingat orang dan terus dikisahkan oleh lisan sejarah sepanjang masa. Adapun kisah Abdullah dengan Kisra raja Persia itu terjadi pada tahun ke enam hijriyah saat Nabi Saw berniat untuk mengirimkan beberapa rombongan sahabatnya dengan membawa surat kepada para raja berkebangsaan non-arab untuk mengajak mereka masuk ke dalam Islam.

Rasulullah Saw sudah memprediksikan bahaya dari tugas ini. Para utusan Rasul tadi akan berangkat menuju negeri-negeri yang jauh yang belum pernah mengadakan kerjasama dan kesepakatan dengan Islam sebelumnya. Para utusan tadi tidak mengerti bahasa-bahasa negeri yang akan didatanginya dan mereka juga tidak sedikitpun mengerti watak para raja tadi. Para utusan tadi juga akan mengajak para raja untuk meninggalkan agama mereka, melepaskan kebesaran dan kekuasaan serta masuk ke dalam sebauh agama suatu kaum.

Ini merupakan sebuah ekspedisi berbahaya. Sebab yang berangkat ke sana dapat menghilang sedang yang kembali dari ekspedisi ini hanya tinggal anaknya saja.Oleh karenanya Rasulullah Saw mengumpulkan para sahabatnya . Beliau berdiri dihadapan mereka dalam sebuah khutbah: Setelah memuji Allah, mengucapkan syahadat Beliau bersabda: “Amma ba’du. Aku ingin mengutus beberapa orang dari kalian untuk datang kepada beberapa orang raja non-Arab. Janganlah kalian membantah aku sebagaimana Bani Israil membantah Isa putra Maryam.”

Para sahabat Rasulullah Saw menyambut dengan berseru: “Ya Rasulullah, kami akan mendukung apapun yang kau inginkan. Kirimlah kami kemana saja engkau inginkan.” Rasulullah Saw mengutus 6 orang sahabatnya untuk membawa surat dari Beliau kepada beberapa orang raja Arab dan non-Arab. Salah seorang dari ke enam utusan tadi adalah: Abdullah bin Hudzafah Al Sahmy yang diutus untuk membawa surat Nabi Saw kepada Kisra raja Persia.

Para sahabat Rasulullah Saw menyambut dengan berseru: “Ya Rasulullah, kami akan mendukung apapun yang kau inginkan. Kirimlah kami kemana saja engkau inginkan.”

Rasulullah Saw mengutus 6 orang sahabatnya untuk membawa surat dari Beliau kepada beberapa orang raja Arab dan non-Arab. Salah seorang dari ke enam utusan tadi adalah: Abdullah bin Hudzafah Al Sahmy yang diutus untuk membawa surat Nabi Saw kepada Kisra raja Persia, Abdullah serta-merta mempersiapkan bekalnya. Ia mengucapkan kata perpisahan kepada istri dan anaknya. Ia lalu berangkat menuju tempat tujuannya yang melalui berbagai lereng dan bukit dataran tinggi maupun rendah. Ia lakukan perjalanan tersebut sendirian tanpa ada teman yang mengiringi selain Allah Swt.


Saat ia sampai di perkampungan wilayah Persia, ia memohon izin untuk dapat masuk kepada rajanya. Dan para permbantu raja memperingatkan bahaya dari surat yang dibawa Abdullah kepada raja. Mendengar itu raja Kisra memerintahkan para pembantunya untuk menghias istana, lalu ia megundang para pembesar bangsa Persia untuk dapat hadir dalam kesempatan ini.

Kemudian Kisra mengizinkan Abdullah bin Hudzafah untuk datang. Lalu datanglah Abdullah bin Hudzafah menghadap pemimpin Persia dengan menggunakan selendang tipis yang menutupi tubuhnya, ia juga mengenakan baju panjang berbahan kasar yang ditutupi dengan selendang khusus bangsa Arab. Akan tetapi ia memiliki leher yang tegak. Postur tubuh yang tegap. Dari
tulang rusuknya terlihat keagungan Islam. Dalam hatinya menyala kebesaran iman.

Begitu Kisra melihat Abdullah datang menghadap, ia langsung memberi isyarat kepada salah seorang pembantunya untuk mengambil surat dari tangan Abdullah, maka Abdullah langsung berkata: “Jangan, Rasulullah Saw menyuruhku untuk menyerahkan surat ini langsung ke tanganmu, dan aku tidak ingin melanggar perintah Rasulullah.”

Kisra langsung memerintahkan kepada semua pembantunya: “Biarkan ia mendekat kepadaku.” Maka Abudllah langsung mendekat ke arah Kisra sehingga ia dapat langsung menyerahkan surat tersebut ke tangan Kisra. Lalu Kisra memanggil seorang juru tulis berkebangsaan Arab dari negeri Al Hirah dan ia memerintahkan untuk membuka surat tersebut dihadapannya. Dan Kisra meminta juru tulis tadi untuk membacakannya: “ Bismillahirrahmanirrahim, dari Muhammad Rasulullah kepada Kisra yang Agung raja Persia. Keselamatan bagi orang yang mengikuti petunjuk...” Begitu Kisra mendengar isi surat sebagaimana yang telah dibacakan kepadanya, maka tersulutlah api amarah dalam dadanya. Wajahnya menjadi merah. Keringatnya mengucur deras dari leher karena dalam surat tersebut Rasulullah Saw memulai dengan menyebut dirinya sendiri. Lalu ia langsung menyambar surat tersebut dan merobeknya tanpa ia tahu apa yang ada dalam isi surat itu.


Ia pun langsung berseru: “Apakah ia berani menuliskan hal ini kepadaku, padahal dia adalah budakku?!!” Lalu ia memerintahkan para pengawalnya untuk mengeluarkan Abdullah bin Hudzafah dari hadapannya. Dan akhirnya Abdullah dibawa keluar. Abdullah bin Hudzafah keluar meninggalkan ruang sidang Kisra. Ia sendiri tidak tahu ketentuan Allah yang bagaimana yang akan terjadi pada dirinya.... Apakah ia akan dibunuh atau dibiarkan hidup dengan bebas?

Akan tetapi ia masih sempat berujar: “Demi Allah, aku tidak peduli akan nasibku setelah aku menyampaikan surat Rasulullah Saw... Iapun langsung menaiki kendaraannya dan akhirnya berangkat. Begitu amarah Kisra mereda, ia memerintahkan untuk membawa masuk kembali Abdullah; namun ia tidak ditemukan... para pembantu raja lalu mencarinya, namun sayang Abdullah telah pergi tanpa jejak. Merekapun terus mengejar sepanjang jalan hingga ke jazirah Arab, dan mereka menyadari bahwa Abdullah telah pergi jauh.
Begitu Abdullah datang menghadap Nabi Saw ia menceritakan apa yang terjadi dengan Kisra dan surat Nabi Saw yang dirobeknya. Rasul Saw tidak menanggapi dengan ucapan apa-apa selain: “Allah akan merobek- robek kerajaannya.”

Kisra kemudian mengirim surat kepada Badzan wakilnya yang berada di Yaman. Dalam suratnya Kisra berpesan: “Kirimlah kepada orang yang ada di Hijaz ini (Muhammad) dua orang kuat yang kau miliki. Dan suruhlah mereka berdua membawanya menghadapku...” Maka Badzan mengutus dua orang terbaiknya kepada Rasulullah Saw, dan lewat kedua orang tadi Badzan menitipkan surat kepada Rasul yang didalamnya terdapat perintah kepada Rasul untuk berangkat bersama kedua orang utusannya untuk menghadap Kisra sesegera mungkin.

Badzan juga meminta kedua utusannya untuk mencari informasi tentang diri dan kisah Rasulullah, dan meminta keduanya melaporkan setiap informasi tentang diri Beliau. Kedua orang utusan tadi berangkat dengan kecepatan tinggi sehingga keduanya tiba di daerah Thaif. Mereka berdua bertemu dengan para pedagang dari suku Quraisy. Begitu melihat mereka, keduanya langsung menanyakan tentang diri Muhammad Saw. Para pedagang Quraisy menjawab: “Mereka kini ada di Yatsrib.” Kemudian para pedagang tadi melanjutkan perjalanan ke Mekkah dengan gembira, dan mereka membawa kabar gembira kepada suku Quraisy sambil berkata: “Bergembiralah! Kisra sekarang akan menghantam Muhammad dan kalian tidak usah lagi khawatir akan kejahatannya.”

Sedang kedua utusan tadi langsung menuju Madinah. Tatkala sampai disana mereka berdua bertemu dengan Nabi Saw. Mereka lalu menyerahkan surat Badzan kepada Beliau sambil berkata: “Raja diraja Kisra menuliskan surat kepada raja kami Badzan untuk mengutus seseorang yang dapat membawamu menghadapnya... Kami kini sudah datang untuk menjemputmu. Jika kau ingin, kami dapat berbicara kepada Kisra sehingga ia tidak mencelakakanmu dan membiarkanmu selamat. Jika kau menolak, kau sudah mengerti kekuatan, kebengisan dan kemampuannya untuk membunuhmu dan semua kaummu.”

Lalu Rasulullah Saw tersenyum sambil bersabda kepada mereka berdua: “Kembalilah lagi ke tunggangan kalian hari ini, dan datanglah esok!.” Begitu mereka berdua datang menghadap lagi kepada Nabi di hari esoknya, mereka berdua berkata: “Apakah kau sudah mempersiapkan diri untuk berangkat bersama kami menghadap Kisra?” Nabi Saw menjawab mereka dengan bersabda: “Kalian tidak akan bertemu dengan Kisra lagi setelah ini.... Allah telah membunuhnya; dengan mengangkat putranya yang bernama Syirawaih di malam ini.... Dan bulan ini.”

Mereka berdua lalu menatap tajam wajah Nabi Saw, dan nampak keterkejutan di wajah mereka berdua. Keduanya bertanya: “Apakah engkau mengerti apa yang kau katakan? Apakah kami perlu menulis surat tentang hal ini kepada Badzan?”

Rasul Saw menjawab: “Silahkan dan katakan kepadanya bahwa agamaku akan dapat menguasai apa yang telah dikuasai oleh Kisra dan jika ia mau masuk ke dalam Islam, aku akan membiarkan apa yang telah ia miliki dan menjadikannya sebagai raja bagi kaumnya.”

Akhirnya kedua utusan tadi pergi meninggalkan Rasulullah Saw dan mereka pergi menghadap Badzan. Keduanya menceritakan kisahnya. Badzan lalu berkata: “Jika apa yang dikatakan Muhammad adalah benar maka dia adalah seorang Nabi, namun jika tidak maka kami akan mengambil keputusan atasnya.”

Tidak lama berselang maka tibalah kepada Badzan surat dari Syirawaih yang didalamnya tertulis: “Amma ba’du... Aku telah membunuh Kisra. Aku membunuhnya karena ingin membalas dendam bangsaku. Karena ia telah memerintahkan untuk membunuh para pembesar bangsa, menjadikan wanita-wanitanya sebagai budak dan merampas harta rakyat. Jika surat ini telah sampai di tanganmu maka engkau dan seluruh pengikutmu harus tunduk dan taat kepadaku.”

Begitu Badzan membaca surat dari Syirawaih, ia langsung membuang surat tersebut dan ia mengumumkan bahwa ia masuk Islam. Karenanya, maka seluruh bangsa Persia yang berada di Yaman masuk Islam bersamanya.

Demikianlah kisah perjumpaan Abdullah bin Hudzafah dengan Kisra raja Persia. Lalu bagaimana kisah perjumpaannya dengan Kaisar yang Agung raja Romawi? Perjumpaan Abdullah dengan Kaisar terjadi pada masa khilafah Umar bin Khattab ra. Dan Umar punya kisah tersendiri dengan Abdullah yang termasuk kisah paling menakjubkan.

Pada tahun 19 Hijriyah, Umar mengirimkan pasukan untuk berperang dengan Romawi yang didalamnya terdapat Abdullah bin Hudzafah Al Sahmy.... Kaisar raja Romawi sudah mendengar tentang kisah pasukan kaum muslimin dan sifat mereka yang memiliki iman yang kuat, akidah yang kokoh dan rela mengorbankan jiwa di jalan Allah dan Rasul-Nya. Kaisar memerintahkan kepada pasukannya –jika mereka dapat menangkap seorang tawanan dari pasukan kaum muslimin- hendaknya tidak diapa-apakan akan tetapi dibawa menghadapnya hidup-hidup.

Kehendak Allah menetapkan bahwa Abdullah bin Hudzafah Al Sahmy menjadi tawanan bangsa Romawi. Maka para pasukan Romawi membawa Abdullah menghadap Kaisar. Para pasukan tadi berkata kepadanya: “Ini adalah seorang sahabat Muhammad yang masuk Islam lebih dahulu, dan ia berhasil kami tangkap; dan kini kami membawanya menghadapmu.” Raja Romawi memadang ke arah Abdullah bin Hudzafah dengan seksama,lalu ia berkata kepadanya: “Aku akan menawarkan sesuatu kepadamu.” Abdullah bertanya: “Apa itu?” Kaisar menjawab: “Aku menawarkan kepadamu untuk masuk ke dalam agama Nashrani. Jika kau mau, aku akan membiarkanmu hidup dan membuatmu hidup muia.” Maka Abdullah menjawab dengan sengit dan tegas: “Tidak akan bagiku. Kematian 1000 kali lebih aku sukai daripada memenuhi ajakanmu.”

Kaisar lalu berkata: “Menurutku engkau adalah seorang yang mulia. Jika kau mau menerima tawaranku maka aku akan menjadikanmu sebagai pembantuku dan aku akan berbagi kekuasaan denganmu.” Abdullah yang sedang dalam kondisi terikat itu tersenyum seraya berkata: “Demi Allah, andai saja kau beri aku seluruh apa yang kau miliki dan semua yang dimiliki bangsa Arab agar aku keluar dari agama Muhammad sekejap saja, maka aku tidak akan pernah melakukannya.”

Kaisar berkata: “Kalau begitu, aku akan membunuhmu.” Abdullah menjawab: “Lakukan saja apa yang kau inginkan.” Kemudian Kaisar memerintahkan ag ar Abdullah disalib. Kemudian ia memerintahkan para juru tombaknya untuk melontarkan tombak ke arah tangan Abdullah, karena ia berani menolak untuk masuk agama Nasrani. Kaisar pun memerintahkan kepada ju ru tombaknya untuk melemparkan tombak ke arah kaki Abdullah karena ia berani menolak untuk meninggalkan agamanya.

Setelah itu, Kaisar meminta para juru tombaknya berhenti dan menyuruh mereka untuk menurunkan Abdullah dari tiang salib. Kemudian Kaisar meminta sebuah tungku besar yang berisikan minyak. Ia lalu menyalakan api sehingga mendidih. Lalu ia memanggil pembantunya untuk membawa dua orang tawanan dari kaum muslimin lainnya. Lalu Kaisar memerintahkan agar salah seorang dari tawanan tadi dimasukkan ke dalam tungku tadi. Maka serta merta dagingnya langsung terburai... dan tulangnya menjadi kelihatan.

Lalu Kaisar menoleh ke arah Abdullah bin Hudzafah dan mengajaknya untuk masuk ke dalam agama Nashrani. Namun Abdullah menolaknya dengan lebih keras lagi. Tatkala kesabaran Kaisar sudah habis, ia menyuruh pembantunya untuk memasukkan Abdullah ke dalam tungku bersama kedua sahabatnya tadi. Tatkala para pengawal membawa Abdullah, maka kedua matanya mengeluarkan air mata. Maka para p engawal tadi memberitahukan Kaisar bahwa Abdullah telah menangis.

Kaisar menduga bahwa Abdullah sudah merasa takut dan ia berkata: “Bawa kembali dia menghadapku!” Tatkala Abdullah sudah berada di hadapan Kaisar. Kaisar menawarkan agama Nasrani kembali kepadanya dan ia pun masih menolak. Maka Kaisar menjadi berang karenanya seraya berkata: “Celaka kamu, lalu apa yang membuatmu menangis tadi?” Abdullah menjawab: “Yang membuat aku menangis adalah saat aku berkata dalam diri sendiri: ‘Sebentar lagi kau akan dimasukkan ke dalam tungku dan ruhmu akan pergi. Dan aku berharap aku memiliki ruh yang banyak sejumlah rambut yang berada di badanku, sehingga semuanya dimasukkan ke dalam tungku
dan mati di jalan Allah.”

Maka Kaisar yang lalim bertanya: “Maukah kau mencium kepalaku sehingga aku akan membebaskanmu?” Abdullah balik bertanya: “Apakah engkau juga akan membebaskan semua tawanan kaum muslimin?” Kaisar menjawab: “Semuanya akan aku bebaskan.” Abdullah lalu berkata dalam dirinya: “Dia adalah salah satu musuh Allah. Aku harus mencium kepalanya sehingga ia akan membebaskanku dan semua tawanan muslimin. Menurutku ini bukanlah hal yang dapat membawa mudharat.”

Kemudian Abdullah mendekat ke arah Kaisar dan iapun mencium kepala Kaisar. Lalu Kaisar memerintahkan untuk membawa semua tawanan muslimin menghadapnya dan kemudian mereka semua dibebaskan.

Abdullah bin Hudzafah datang menghadap Umar bin Khattab ra. Ia mengisahkan ceritanya; Umar langsung gembira dibuatnya. Tatkala Umar melihat semua tawanan yang bersamanya ia berujar: “Menjadi kewajiban bagi setiap muslim untuk mencium kepala Abdullah bin Hudzafah... dan aku sendiri yang akan memulainya.” Lalu Umar berdiri dan mencium kepala Abdullah.

Abu Ubaidah Ibnu Al Jarrah



Dia memiliki wajah yang tenang. Paras yang berwibawa. Badan yang
kurus. Postur yang tinggi. Alis yang tipis... Sedap dipandang mata. Enak untuk dilihat. Damai terasa di hati. Dia juga adalah orang yang ramah. Suka rendah hati. Pemalu. Akan tetapi dalam situasi serius ia bagai seekor singa yang menerkam. 


Dia serupa dengan mata pedang yang begitu indah dan berkarisma, dan
juga tajam dan dapat membabat layaknya pedang. Dialah  Amir bin Abdullah bin Al Jarrah Al
Fihry Al Qurasy yang dipanggil dengan nama Abu Ubaidah. 


Abdullah bin Umar ra pernah mendeskripsikan sosoknya dengan ucapannya: Tiga orang dari suku Quraisy yang paling terkemuka. Memiliki akhlak yang paling baik. Paling pemalu. Jika mereka berbicara denganmu maka mereka tidak akan berdusta. Dan jika engkau berbicara dengan mereka, mereka tak akan mendustaimu. Ketiganya adalah: Abu Bakar As Shiddiq, Utsman bin Affan dan Abu Ubaidah bin Al Jarrah. 

Abu Ubaidah adalah termasuk orang pertama yang masuk ke dalam Islam. Ia masuk Islam sehari setelah Abu Bakar. Ia memeluk Islam karena jasa Abu Bakar. Abu Bakar mengajak Abu Ubaidah, Abdurrahman bin Auf, Utsman bin Mazh’un dan Al Arqam bin Abi Al Arqam datang menghadap Nabi Saw dan menyatakan dihadapan Beliau kalimat kebenaran. Dan mereka semua menjadi pilar pertama tempat dibangunnya kerajaan Islam yang agung.
 

Abu Ubaidah mengalami pengalaman keras yang dirasakan kaum muslimin selagi berada di Mekkah sejak pertama hingga akhir. Dia juga merasakan penderitaan kaum muslimin pada masa-masa awal atas segala penderitaan, sakit dan kesedihan yang tidak pernah dirasakan oleh para pengikut agama dimuka bumi ini. Namun ia tetap teguh menghadapi ujian ini, dan senantiasa mentaati dan membenarkan Allah dan Rasul-Nya dalam segala kondisi. Akan tetapi ujian yang diderita oleh Abu Ubaidah pada perang Badr adalah sebuah penderitaan yang tidak dapat digambarkan oleh siapapun.

Ketika perang Badr, Abu Ubaidah menyerang di antara barisan dengan begitu berani dan tak memiliki kegentaran sedikitpun. Kaum musyrikin jadi takut dibuatnya. Ia berputar-putar di medan laga seolah tidak takut mati. Para penunggang kuda suku Quraisy menjadi gentar dibuatnya dan mereka berusaha menjauhi diri dari Abu Ubaidah setiap kali bertemu. Akan tetapi ada seorang diantara mereka yang senantiasa mengajak duel Abu Ubaidah  ke mana saja ia pergi, dan Abu Ubaidah senidiri selalu menjauhkan diri darinya. Orang tersebut akhirnya menutup semua jalan bagi Abu Ubaidah, dan berdiri membatasi ruang gerak Abu Ubaidah sehingga tidak dapat membunuh musuh Allah lainnya. Saat Abu Ubaidah sudah merasa geram, maka Abu Ubaidah melayangkan pedangnya ke arah kepala orang tadi sehingga terbelah dua; dan akhirnya orang itu tewas dihadapan Abu Ubaidah. Orang itu tak lain adalah Abdullah bin Al Jarrah ayah dari Abu Ubaidah.

Abu Ubaidah tidak membunuh ayahnya, akan tetapi ia membunuh kemusyrikan yang berada dalam diri ayahnya. Maka Allah Swt menurunkan sebuah ayat tentang Abu Ubaidah dan ayahnya yang berbunyi:


Yang artinya:

“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka.Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka denga pertolongan yang
datang daripada-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya.Allah ridha terhadap mereka dan merekapun merasa puas
terhadap (limpahan rahmat)-Nya.Mereka itulah golongan Allah.Ketahuilah, bhwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung.” (QS. Al-Mujadilah [58] : 22).



Bagi Abu Ubaidah ini bukanlah sebuah hal yang menakjubkan. Kekuatan imannya kepada Allah dan pembelaannya kepada agama, dan amanah kepada ummat Muhammad telah mencapai sebuah posisi yang dicita-citakan oleh sebuah jiwa yang besar di sisi Allah. Muhammad bin Ja’far berkisah: Sebuah rombongan Nasrani datang kepada Nabi Saw dan mereka berkata: “Wahai Abu Qasim, utuslah kepada kami salah seorang sahabatmu yang kau sukai untuk memutuskan sebuah perkara tentang harta kami yang membuat kami menjadi berselisih, karena kalian wahai kaum muslimin adalah orang-orang yang kami sukai.” Rasulullah Saw langsung menjawab: “Datanglah kepadaku malam hari, nanti aku akan mengirimkan seorang yang kuat dan terpercaya kepada kalian.” Umar bin Khattab berkata: “Maka aku pergi berangkat shalat Zhuhur lebih awal. Dan aku tidak pernah berharap mendapatkan jabatan pada hari itu kecuali pada hari itu agar aku menjadi orang yang ditunjuk untuk menyelesaikan perkara ini. Begitu Rasulullah Saw menyelesaikan shalat Zhuhurnya, Beliau melihat ke kanan dan ke kiri. Aku berusaha meninggikan badanku agar terlihat olehnya. Ia tetap saja menyisirkan pandangannya kepada kami sehingga Beliau melihat ke arah Abu Ubaidah bin Al Jarrah. Beliau langsung memanggilnya seraya bersabda: ‘Pergilah kepada mereka. Putuskanlah perkara yang tengah mereka perselisihkan dengan benar!’ dan akhirnya Abu Ubaidah pergi ke tempat mereka.”


Abu Ubaidah bukan saja merupakan orang yang amanah, akan tetapi ia juga merupakan orang yang sanggup mengkombinasikan kekuatan dengan amanah. Kekuatan yang dimilikinya ini sering kali muncul dalam banyak kesempatan:  Suatu hari Rasulullah Saw mengutus sekelompok orang dari para sahabatnya untuk mencegat sebuah kafilah suku Quraisy. Dan Rasulullah Saw menunjuk sebagai Amir (pemimpin) mereka adalah Abu Ubaidah ra. Rasulullah membekali mereka dengan sekantong kurma saja. Abu Ubaidah memberikan hanya satu kurma saja kepada masing-masing sahabatnya dalam sehari. Maka setiap orang menghisap kurma tersebut sebagaimana seorang bayi menghisap payudara ibunya, kemudian mereka meminum air. Dan semuanya merasa cukup dengan makanan seperti itu hingga malam hari.

Dalam perang Uhud saat kaum muslimin mengalami kekalahan dan kaum musyrikin mulai meneriakkan: “Tunjukkan kepadaku dimana Muhammad! Tunjukkan kepadaku dimana Muhammad! Saat itu Abu Ubaidah adalah salah seorang dari jamaah yang melindungi Rasulullah
Saw dengan dada mereka dari serangan tombok musyrikin. Saat perang sudah usai, gigi geraham Rasulullah pecah. Kening Beliau memar. Dan di pipi Beliau ada dua buah biji baja yang menempel. Maka Abu Bakar As Shiddiq datang menghampiri Rasulullah Saw untuk mencabut kedua biji bahwa tersebut dari pipi Beliau. Maka Abu Ubaidah berkata kepada Abu Bakar: “Aku bersumpah kepadamu, biarkan aku saja yang melakukannya.” Maka Abu Bakar pun membiarkan Abu Ubaidah melakukannya. Lalu Abu Ubaidah merasa khawatir jika ia mencabut dengan tangannya maka akan membuat Rasulullah Saw merasa sakit. Maka Abu Ubaidah menggigit salah satu biji baja tadi dengan gigi serinya dengan bergitu kuat. Ia berhasil mengeluarkan biji baja tersebut dan satu gigi serinya pun ikut tanggal... Kemudian ia menggigit biji baja yang kedua dengan gigi serinya yang lain, kali ini ia pun berhasil mengeluarkannya dan satu giginya lagi-lagi ikut tanggal. Abu Bakar berkata: “Abu Ubaidah adalah manusia yang paling bagus dalam menanggalkan giginya.”


Abu Ubaidah turut serta bersama Rasulullah Saw semua peperangan sejak ia mengenal Rasul hingga Beliau wafat.

Saat hari Tsaqifah, Umar berkata kepada Abu Ubaidah: “Ulurkan tanganmu agar dapat aku bai’at, sebab aku pernah mendengar Rasulullah Saw bersabda: ‘Setiap ummat memiliki seorang Amin (orang yang dipercaya), dan engkau adalah Aminummat ini.”
Abu Ubaidah menjawab: “Aku tidak akan maju di hadapan seorang pria yang diperintahkan Rasulullah Saw untuk menjadi imam kita dalam shalat, dan kita mempercayainya sehingga Rasulullah Saw wafat.” Kemudian Abu Bakar pun di bai’at. Dan Abu Ubaidah adalah penasihat dan kawan Abu Bakar yang terbaik dalam masalah kebenaran. Kemudian Abu Bakar menyerahkan khilafah setelahnya kepada Umar bin Khattab. Abu Ubaidah juga tunduk dan taat kepada Umar. Ia tidak pernah melanggar perintah Umar kecuali satu kali saja.Apakah engkau tahu masalah apakah yang membuat Abu Ubaidah melanggar perintah khalifah?! Hal itu terjadi saat Abu Ubaidah bin Al Jarrah sedang memimpin pasukan muslimin di negeri Syam dari satu kemenangan ke kemenangan yang lain, sehingga Allah berkenan untuk menaklukkan semua daerah Syam di bawah komandonya.

Pasukan yang dipimpinnya berhasil menaklukkan sungai Eufrat di daerah timur dan Asia kecil di utara.Pada saat itu dinegeri Syam sedang mewabah penyakit Thaun yang belum pernah diketahui oleh manusia saat itu sebelumnya; Penyakit tersebut berhasil membunuh banyak manusia. Maka Umar bin Khattab berinisiatif untuk mengutus seorang utusan kepada Abu Ubaidah dengan membawa sebuah surat yang berbunyi: “Aku memerlukan bantuanmu tanpa interupsi sedikitpun darimu. Jika suratku ini datang kepadamu pada malam hari, maka dengan segera aku memintamu untuk datang kepadaku tanpa perlu menunggu datangnya shubuh. Jika suratku ini datang kepadamu pada waktu siang. Aku meminta segera kepadamu untuk datang kepadaku tanpa perlu menunggu hingga senja tiba.” Begitu Abu Ubaidah menerima surat dari Umar Al Faruq, ia berkata: “Aku mengerti kepentingan Amirul Mukminin terhadap diriku. Ia menginginkan agar aku tetap hidup meski yang lainnya binasa.” Lalu ia menuliskan sebuah surat kepada Amirul Mukminin yang berbunyi: “Wahai Amirul Mukminin, Aku mengerti kepentinganmu terhadap diriku. Aku kini sedang bersama para tentara muslimin dan aku tidak ingin menjaga diriku agar terhindar dari penyakit yang mereka derita. Aku tidak ingin meninggalkan mereka sehingga Allah menentukan keputusannya bagi diriku dan mereka. Jika suratku ini telah sampai kepadamu, maka biarkanlah aku, dan izinkan aku untuk tetap tinggal di sini.


Begitu Umar membaca surat Abu Ubaidah, maka ia langsung menangis dan matanya langsung sembab. Maka orang yang berada disekelilingnya bertanya –karena merasa heran dengan tangis Umar yang begitu keras-: “Apakah Abu Ubaidah telah meninggal, wahai Amirul Mukminin?” Ia menjawab: “Tidak, akan tetapi kematian telah mengintainya.” Benar dugaan Umar, karena tidak lama kemudian Abu Ubaidah terkena Thaun. Begitu ia menjelang kematian ia berwasiat kepada tentaranya: “Aku berwasiat kepada kalian, jika kalian menerimanya kalian akan senantiasa berada dalam kebaikan: Dirikanlah shalat, tunaikan zakat,jalankan puasa Ramadhan, bersedekahlah, berhaji dan berumrahlah, saling wasiat, dan taatlah kepada pemimpin kalian dan jangan kalian melanggarnya! Janganlah dunia membuat kalian lalai. Karena meski seseorang diberi umur 1000 tahun maka pastilah ia akan merasakan kondisi seperti yang kalian lihat pada diriku ini.

Allah telah menetapkan kematian kepada anak Adam dan mereka semua akan mati. Yang paling bijak di antara mereka adalah yang paling taat kepada Tuhannya, dan yang paling mengerti akan hari pembalasan. Wassalamu’alaikum Wr.Wb.”
Kemudian ia menoleh ke arah Muadz bin Jabal seraya berkata: “Ya Muadz, imamilah manusia untuk shalat!” Begitu ia menghembuskan nafas terakhirnya, maka Muadz pun berdiri dan berseru: “Wahai manusia, kalian telah dibuat kaget oleh seorang pria yang demi Allah aku tidak pernah tahu bahwa aku pernah melihat seorang pria yang begitu lapang dadanya, senantiasa menjauhi kedengkian, dan amat berpesan tentang ummat ini yang lebih baik darinya. Maka mohonlah rahmat Allah baginya dan semoga Allah merahmati kalian!”

Anas bin Malik Al Anshary


Anas bin Malik masih dalam usia belia saat ibunya yang bernama Al Ghumaisha mengajarkan kepadanya syahadatain  (dua kalimat syahadat). Al Ghumaisha’ mengisi hati Anas untuk mencintai Sang Nabi pembawa  ajaran Islam yang bernama Muhammad bin Abdullah SAW. Anas pun langsung tertarik untuk mendengarkan. Tidak mengherankan, terkadang telinga dapat membuat seseorang menjadi jatuh cinta sebelum pandangan mata menyaksikan. Betapa anak yang masih dalam usia belia ini berharap untuk pergi menjumpai Nabinya yang berada di Mekkah, atau Rasul Saw berkenan untuk mengunjungi mereka di Yatsribagar ia puas melihatnya dan bergembira karena telah berjumpa dengannya

Tidak lama berselang hingga di kota Yatsrib yang beruntung ini tersebar kabar bahwa Nabi Saw dan sahabatnya yang bernama As Shiddiq (Abu Bakar) sedang dalam perjalanan menuju Yatsrib. Maka setiap rumah menjadi ceria karenanya. Setiap relung hati manusia pun menjadi gembira dibuatnya. Semua mata dan hati manusia menjadi tertarik untuk menanti perjalanan yang disusuri oleh Nabi Saw dan sahabatnya menuju kota Yatsrib.

Para remaja setiap pagi berteriak: “Muhammad telah datang” Anas bersama bocah-bocah kecil lainnya berlari menuju ke sumber suara; akan tetapi ia tidak mendapati apa-apa dan akhirnya ia kembali dengan hati yang sedih.

Di suatu pagi yang cerah dan segar, beberapa orang pria di kota Yatsrib berteriak seraya mengatakan bahwa Muhammad dan seorang sahabatnya hampir tiba di Madinah. Serentak beberapa orang pria dewasa bergerak menuju jalan yang disusuri oleh Nabi SAW. Mereka semua bergegas secara berbondong-bondong berlari menghampiri Nabi Saw dan di antara mereka juga banyak anak dalam usia belia yang dengan wajah berseri dan hati bahagia pergi menyongsong kedatangan sang Nabi Saw. Di barisan para anak usia belia tersebut terdapat seorang anak yang bernama Anas bin Malik Al Anshary.


Tibalah Rasul Saw beserta sahabatnya As Shiddiq. Mereka berdua tiba dengan sambutan meriah yang diberikan penduduk Madinah yang penuh sesak terdiri dari para pria dewasa dan anak-anak. Sedang para ibu dan gadis berada di atap rumah, memandang dari kejauhan datangnya sang Rasul Saw. Mereka bertanya-tanya: “Yang mana
Rasul? Yang mana Rasul?” Hari itu menjadi sejarah. Anas masih terus mengenangnya hingga pada usianya yang lebih dari 100 tahun.


Baru saja Rasulullah Saw hendak tinggal dan menetap di Madinah; datanglah Al Ghumaisha’ binti Milhan ibunya Anas menghadap Beliau. Al Ghumaisha’ membawa anaknya yang masih kecil yang diajak untuk menghadap Rasulullah. Saat itu Anas be
rambut poni dengan uraian rambut kecil yang bergerak ke kanan dan ke kiri menutupi keningnya. Lalu Al Ghumaisha’ memberi salam kepada Nabi Saw seraya berkata: “Ya Rasulullah, Tidak ada seorang pria dan wanita pun dari suku Anshar yang menghadapmu kecuali mereka memberikan hadiah kepadamu. Aku tidak memiliki apa-apa untuk dijadikan hadiah selain anak ini saja ,ambillah ia dan jadikanlah ia pembantu sesuka hatimu!”. Nabi SAW gembira mendengarnya dan Beliaupun menerima Anas dengan wajah yang sumringah. Beliau membelai kepala Anas dengan tangan Beliau yang mulia. Beliau juga membelai rambut poni Anas dengan jari Beliau yang lembut. Akhirnya Rasul Saw menerima Anas menjadi anggota keluarganya.


Anas atau Unais –sebagaimana penduduk Madinah memanggilnya dengan panggilan manja- saat itu berusia 10 tahun saat ia mulai bahagia dapat membantu Nabi Saw. Ia terus tinggal dalam asuhan Nabi Saw hingga Beliau dipanggil oleh Allah Swt. Anas mendampingi Nabi Saw selama 10 tahun, dimana ia mendapatkan petunjuk langsung dari Nabi Saw untuk mensucikan dirinya. Ia juga menerima seluruh hadits Rasulullah sehingga memenuhi ruang dadanya. Anas juga mengetahui kondisi, cerita, rahasia dan kebiasaan terpuji Beliau yang jarang diketahui oleh orang lain.

Anas atau Unais –sebagaimana penduduk Madinah memanggilnya dengan panggilan manja- saat itu berusia 10 tahun saat ia mulai bahagia dapat membantu Nabi Saw. Ia terus tinggal dalam asuhan Nabi Saw hingga beliau dipanggil oleh Allah Swt. Anas mendampingi Nabi Saw selama 10 tahun, dimana ia mendapatkan petunjuk langsung dari Nabi Saw un
tuk mensucikan dirinya. Ia juga menerima seluruh hadits Rasulullah sehingga memenuhi ruang dadanya. Anas juga mengetahui kondisi, cerita, rahasia dan kebiasaan terpuji Beliau
yang jarang diketahui oleh orang lain. Anas dalam pergaulannya dengan Nabi Saw mendapatkan apa yang tidak didapat oleh seorang anak dari ayahnya. Ia juga menemukan dari keagungan sifat Rasul yang membuat seluruh dunia merasa iri kepadanya. Mari kita persilahkan Anas untuk bercerita tentang beberapa kisah menarik dari pergaulannya dengan Rasul Saw yang ia dapatkan dalam asuhan Beliau. Ia amat mengetahui hal ini, dan untuk menceritakannya ia amat berkompeten. Anas bin Malik berkata: “Rasulullah Saw adalah manusia yang paling baik akhlaknya, beliau adalah manusia yang paling lapang dada dan beliau adalah manusia yang paling penyayang.
 

Beliau pernah menyuruhku untuk membeli sesuatu dan akupun keluar untuk membelinya. Di tengah jalan Aku berniat untuk bermain bersama para anak-anak di pasar dan aku tidak melakukan apa yang diperintahkan oleh Rasul kepadaku. Saat aku sudah bertemu dengan anak-anak tadi aku merasakan ada seorang pria yang berdiri di belakangku, dan ia menarik
bajuku... Aku menoleh ke belakang, ternyata ia adalah Rasulullah SAW. Beliau tersenyum seraya berujar: “Wahai Unais, apakah kau sudah melakukan apa yang aku suruh?” Aku m
enjadi grogi dan berkata: “Baik aku akan melakukannya sekarang, Ya Rasulullah”
Demi Allah, aku sudah membantu Beliau 10 tahun lamanya, namun atas apa yang aku lakukan sepanjang itu Beliau tidak pernah berkata: “Mengapa kau lakukan ini?” Dan Beliau tidak pernah berkata atas apa yang tidak aku kerjakan: “Mengapa kau tidak mengerjakannya?”


Rasulullah Saw jika memanggil Anas maka Beliau memanggilnya dengan panggilan manja dan kasih sayang; terkadang Beliau memanggilnya dengan Unais. Kadang
kala Beliau memanggilnya dengan
‘Anakku’. Sering kali Rasulullah memberikan nasehat dan wejangan yang memenuhi relung hati dan sanubari Anas. Salah satunya adalah nasehat Beliau kepada Anas: 

 “Anakku, bila kau mampu berada dipagi dan sore hari tanpa ada dengki di hatimu pada siapapun, maka lakukanlah...! Anakku, yang demikian adalah termasuk sunnahku, barang siapa yang menghidupkan sunnahku maka ia telah mencintaiku... barang siapa yang mencintaiku maka ia akan berada di surga bersamaku...Anakku, jika kau masuk ke dalam rumah ucapkanlah salam karena itu akan membawa keberkahan bagimu dan juga bagi penghuni rumahmu.”
Setelah Rasulullah Saw wafat Anas bin Malik masih hidup lebih dari 80 tahun lamanya; Sepanjang itu ia mengisi ruang hatinya dengan ilmu dari Rasulullah Saw, dan ia mencoba mengasah otaknya dengan fikih yang diajarkan oleh Nabi Saw. Dalam masa yang sepanjang itu, Anas telah banyak menghidupkan hati para sahabat dan tabi’in dengan petunjuk dan ajaran Nabi Saw. Ia juga sering memberitahukan kepada orang lain sabda
dan kebiasaan Rasulullah Saw. Dalam usia panjang yang dimilikinya ini, Anas menjadi referensi bagi kaum muslimin saat itu. Mereka akan mengadukan permasalahan kepadanya setiap kali mereka merasakan kesulitan. Setiap kali merasa bingung memutuskan suatu persoalan hukum mereka datang kepada Anas dan percaya atas apa yang ia putuskan. Salah satunya adalah sebagian orang yang memperdebatkan masalah agama tentang kebenaran adanya telaga Nabi Saw di hari kiamat. Mereka bertanya kepada Anas tentang hal tersebut. Anas berujar: “Aku tidak pernah menduga bahwa aku akan
hidup untuk melihat orang-orang sepertimu yang memperdebatkan masalah telaga Rasul. Telah banyak wanita-wanita tua sebelumku, dimana setiap kali ia melakukan shalat pasti ia berdoa kepada Allah agar diberikan air minum dari telaga Nabi Saw.”

Anas masih terus hidup dengan kenangan indah bersama Rasulullah Saw sepanjang umurnya. Ia amat bahagia di hari saat ia berjumpa dengan Beliau. Begitu terguncang saat berpisah. Ia sering kali mengulangi pembicaraan tentang hal tersebut... Anas begitu keras untuk berusaha mencontoh Rasulullah Saw dalam perbuatan dan ucapannya. Ia menyukai apa yang disukai Nabi Saw, dan membenci apa yang Beliau benci. Hal yang paling sering ia ingat saat bersama Nabi Saw adalah 2 hari: Hari pada kali pertama ia berjumpa dengan Nabi Saw, dan hari dimana Beliau wafat pada terakhir kali. Jika ia mengenang hari pertama ia berjumpa Rasul, ia menjadi gembira dan semangat seolah ia menghirup aroma yang semerbak. Namun bila terbersit dalam benaknya hari yang kedua, ia menjadi sedih dan menangis. Malah ia mampu membuat manusia yang berada di sekelilingnya saat itu menjadi menangis. Sering kali ia berkata: “Aku melihat Nabi Saw saat Beliau datang kepada kami, dan akupun melihatnya saat Beliau wafat. Sampai kini aku belum menemukan hari lain seperti kedua hari tersebut. Pada hari Beliau datang ke Madinah, Beliau mampu menerangi semuanya... dan pada hari ia hampir melangkah menuju sisi Tuhannya, maka seolah semuanya menjadi gelap. Kali terakhir aku melihat Beliau adalah hari Senin di saat tirai kamar Beliau di buka. Aku melihat wajah Beliau seolah lembaran kertas. Saat itu semua orang berdiri di belakang Abu Bakar seraya memandang ke arah Beliau. Hampir saja mereka tak kuasa menahan diri. Lalu Abu Bakar memberi isyarat kepada mereka untuk tenang. Lalu wafatlah Rasulullah Saw di penghujung hari itu. Kami belum pernah melihat pemandangan yang lebih menakjubkan hati kami melebihi wajah Beliau saat kami mengubur jasad Beliau dengan tanah.”

Rasulullah Saw sering kali mendo’akan Anas bin Malik.. Salah satu doa Beliau untuknya adalah: 

“Allahumma Urzuqhu Maalan wa Waladan, wa Baarik Lahu ( Ya Allah, berikanlah ia harta dan keturunan, dan berkahilah hidupnya ).”  Allah mengabulkan doa Nabi-Nya, dan Anas menjadi orang dari suku Anshar yang paling banyak hartanya. Ia memiliki keturunan yang amat banyak, sehingga bila ia melihat anak serta cucunya maka jumlahnya melebihi 100 orang. Allah Swt memberikan keberkahan pada umurnya sehingga ia hidup 1 abad lamanya ditambah 3 tahun lagi. Anas ra senantiasa berharap syafaat Nabi Saw untuk dirinya pada hari kiamat. Sering kali ia berucap: “Aku berharap dapat berjumpa dengan Rasulullah Saw pada hari kiamat sehingga aku dapat berkata kepada Beliau: “Ya Rasulullah, inilah pembantu kecilmu, Unais.”

Ketika Anas mulai jatuh sakit menjelang kematiannya, ia berujar kepada keluarganya: “Talqinkan aku kalimat La ilaha illahu, Muhammadun Rasulullah.” Ia terus mengucapkan kalimat tadi hingga ia wafat.

Ia berwasiat kepada keluarganya tentang sebuah tongkat kecil milik Rasulullah Saw agar tongkat tersebut dikuburkan bersamanya. Maka tongkat itupun diletakkan di sisi tubuh dan bajunya.

Selamat kepada Anas bin Malik atas anugerah kebaikan yang telah Allah berikan kepadanya. Ia pernah hidup dalam bimbingan Rasulullah Saw 10 tahun lamanya. Ia juga termasuk perawi hadits Rasul terbanyak pada urutan ketiga setelah Abu Hurairah dan Abdullah bin Umar. Semoga Allah Swt membalas kebaikan dirinya dan ibunya yang bernama Al Ghumaisha atas jasa baik yang mereka lakukan terhadap Islam dan kaum
muslimin.Amin.
 

Kisah sahabat yang kematianya menggetarkan langit

Ia adalah seorang sahabat yang bernama Sa’d bin Mu’adz bin Nu’man, al-Ausi, al-Anshari, ia adalah seorang sahabat yang paling di berkahi dalam Islam, ia di Islamkan oleh Mush’ab bin Umair, ketika ia ditugaskan Rasulullah Saw ke Madinah untuk mengajarkan kaum muslimin disana, ketika pertama kali memeluk Islam ia berkata pada bani Abdul Asyhal: Perkataan laki-laki dan perempuan dari golongan kalian bagiku adalah haram sampai kalian memeluk Islam, kemudian mereka berbondong-bondong memeluk Islam dan tak seorangpun yang menentangnya. Ketika Sa’d bin Mu’adz radhiallahu anhu terluka, ia berdo’a agar Allah tidak mencabut nyawanya sampai ia dapat mengIslamkan bani Quraidzah, namun ajal datang menjemputnya, ia wafat ketika menjadi hakim pada Banu Quraidzah. Rasulullah Saw, abu Bakar dan Umar serta sahabat yang lain menjenguknya. Aisyah berkata: Demi Allah yang Nyawaku ada di tanganNya, sungguh aku sangat mengetahui (dapat membedakan antara) tangisan Abu Bakar dari tangisan Umar. Umar bin Syarhabil berkata: Sesungguhnya ketika Sa’d bin Mu’adz luka parah, Rasulullah Saw memeluknya, sehingga darah berlumuran diatas tubuh nabi Muhammad Saw, lalu datanglah Abu Bakar, kemudian berkata: dan hancurlah hatinya, Umar berkata: Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rajiuun. Lalu Jibril alaihissalam datang, lalu menyampaikan kepada Rasulullah Saw bahwa pintu langit telah dibukakan untuk Sa’ad, lalu di siapkan singgasana untuknya. Jabir bin Abdullah berkata: Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda: Tergetar singgasana Allah atas kematian Sa’d bin mu’adz. Dan di riwayatkan oleh Ibnu Umar radhiallaahu anhu bahwa Rasulullah Saw bersabda: Ini (wafatnya Sa’ad bin Mu’adz) yang menyebabkan begeraknya singgasana, dan dibukakannya pintu – pintu langit, dan turunnya tujuh puluh ribu malaikat pada saat wafatnya Sa’d bin Mu’adz.

Kisah kesaksian salman alfaridzi



mesjid





Dari Abdullah bin Abbas Radhiyallahu 'Anhuma berkata, "Salman al-Farisi Radhiyallahu 'Anhu menceritakan biografinya kepadaku dari mulutnya sendiri. Kata Salman, "Saya pemuda Parsi, penduduk kota Isfahan, berasal dari desa Jayyan. Bapaku pemimpin Desa. Orang terkaya dan berkedudukan tinggi di situ. Aku adalah insan yang paling disayangi ayah sejak dilahirkan. Kasih sayang beliau semakin bertambah seiring dengan peningkatan usiaku, sehingga kerana teramat sayang, aku dijaga di rumah seperti anak gadis.Aku mengabdikan diri dalam Agama Majusi (yang dianut ayah dan bangsaku).Aku ditugaskan untuk menjaga api penyembahan kami supaya api tersebut sentiasa menyala.Ayahku memiliki kebun yang luas, dengan hasil yang banyak Kerana itu beliau menetap di sana untuk mengawasi dan memungut hasilnya. Pada suatu hari bapa pulang ke desa untuk menyelesaikan suatu urusan penting. Beliau berkatakepadaku, "Hai anakku! Bapa sekarang sangat sibuk. Kerana itu pergilah engkau mengurus kebun kita hari ini menggantikan Bapa.''Aku pergi ke kebun kami. Dalam perjalanan ke sanaaku melalui sebuah gereja Nasrani. Aku mendengar suara mereka sedang sembahyang. Suara itu sangat menarik perhatianku.Sebenarnya aku belum mengerti apa-apa tentang agama Nasrani dan agama-agama lain. Kerana selama ini aku dikurung bapa di rumah, tidak bolehbergaul dengan siapapun. Maka ketika aku mendengar suara mereka, aku tertarik untuk masuk ke gereja itudan mengetahui apa yang sedang mereka lakukan. Aku kagum dengan cara mereka bersembahyang dan ingin menyertainya.Kataku, "Demi Allah! ini lebih bagus daripada agama kami."Aku tidak berganjak dari gereja itu sehinggalah petang. Sehingga aku terlupa untuk ke kebun.Aku bertanya kepada mereka, "Dari mana asal agama ini?""Dari Syam (Syria)," jawab mereka.Setelah hari senja, barulah aku pulang. Bapa bertanyakan urusan kebun yang ditugaskan beliau kepadaku.Jawabku, "Wahai, Bapa! Aku bertemu dengan orang sedang sembahyang di gereja. Aku kagum melihat mereka sembahyang. Belum pernah aku melihat cara orang sembahyang seperti itu. Kerana itu aku berada di gereja mereka sampai petang."Bapa menasihati akan perbuatanku itu. Katanya,"Hai, anakku! Agama Nasrani itu bukan agama yangbaik. Agamamu dan agama nenek moyangmu (Majusi) lebih baik dari agama Nasrani itu!"Jawabku, "Tidak! Demi Allah! Sesungguhnya agama merekalah yang lebih baik dari agama kita."Bapa khuatir dengan ucapanku itu. Dia takut kalauaku murtad dari agama Majusi yang kami anuti. Kerana itu dia mengurungku dan membelenggu kakiku dengan rantai.Ketika aku beroleh kesempatan, kukirim surat kepada orang-orang Nasrani minta tolong kepada mereka untuk memaklumkan kepadaku andai ada kafilah yangakan ke Syam supaya memberitahu kepadaku. Tidak berapa lama kemudian, datang kepada mereka satu kafilah yang hendak pergi ke Syam. Mereka memberitahu kepadaku.Maka aku berusaha untuk membebaskan diri daripada rantai yang membelengu diriku dan melarikan diri bersama kafilah tersebut ke Syam.Sampai di sana aku bertanya kepada mereka,"Siapa kepala agama Nasrani di sini?""Uskup yang menjaga "jawab mereka.Aku pergi menemui Uskup seraya berkata kepadanya, "Aku tertarik masuk agama Nasrani. Aku bersedia menadi pelayan anda sambil belajar agama dan sembahyang bersama-sama anda."'Masuklah!" kata Uskup.Aku masuk, dan membaktikan diri kepadanya sebagai pelayan.Setelah beberapa lama aku berbakti kepadanya, tahulah aku Uskup itu orang jahat. Dia menganjurkan jama'ahnya bersedekah dan mendorong umatnya beramal pahala. Bila sedekah mereka telah terkumpul, disimpannya saja dalam perbendaharaannya dan tidak dibahagi-bahagikannya kepada fakir miskin sehingga kekayaannya telah berkumpul sebanyak tujuh peti emas.Aku sangat membencinya kerana perbuatannya yang mengambil kesempatan untuk mengumpul harta dengan duit sedekah kaumnya. tidak lama kemudian dia meninggal. Orang-orang Nasrani berkumpul hendak menguburkannya.Aku berkata kepada mereka, 'Pendeta kalian ini orang jahat. Dianjurkannya kalian bersedekah dan digembirakannya kalian dengan pahala yang akankalian peroleh. Tapi bila kalian berikan sedekah kepadanya disimpannya saja untuk dirinya, tidak satupun yang diberikannya kepada fakir miskin."Tanya mereka, "Bagaimana kamu tahu demikian?"Jawabku, "Akan kutunjukkan kepada kalian simpanannya."Kata mereka, "Ya, tunjukkanlah kepada kami!"Maka kuperlihatkan kepada mereka simpanannya yang terdiri dan tujuh peti, penuh berisi emas dan perak. Setelah mereka saksikan semuanya, mereka berkata, "Demi Allah! Jangan dikuburkan dia!"Lalu mereka salib jenazah uskup itu, kemudian mereka lempari dengan batu. Sesudah itu mereka angkat pendeta lain sebagai penggantinya. Akupun mengabdikan diri kepadanya. Belum pernah kulihatorang yang lebih zuhud daripadanya. Dia sangat membenci dunia tetapi sangat cinta kepada akhirat.Dia rajin beribadat siang malam. Kerana itu aku sangat menyukainya, dan lama tinggal bersamanya.Ketika ajalnya sudah dekat, aku bertanya kepadanya, "Wahai guru! Kepada siapa guru mempercayakanku seandainya guru meninggal. Dan dengan siapa aku harus berguru sepeninggalan guru?"Jawabnya, "Hai, anakku! Tidak seorang pun yang aku tahu, melainkan seorang pendeta di Mosul, yang belum merubah dan menukar-nukar ajaran-ajaran agama yang murni. Hubungi dia di sana!"Maka tatkala guruku itu sudah meninggal, aku pergimencari pendeta yang tinggal di Mosul. Kepadanya kuceritakan pengalamanku dan pesan guruku yang sudah meninggal itu.Kata pendeta Mosul, "Tinggallah bersama saya."Aku tinggal bersamanya. Ternyata dia pendeta yangbaik. Ketika dia hampir meninggal, aku berkata kepada nya, "Sebagaimana guru ketahui, mungkin ajal guru sudah dekat. Kepada siapa guru mempercayai seandainyaguru sudah tiada?"Jawabnya, "Hai, anakku! Demi Allah! Aku tak tahu orang yang seperti kami, kecuali seorang pendeta di Nasibin. Hubungilah dia!"Ketika pendeta Mosul itu sudah meninggal, aku pergimenemui pendeta di Nasibin. Kepadanya kuceritakan pengalamanku serta pesan pendeta Mosul.Kata pendeta Nasibin, "Tinggallah bersama kami!"Setelah aku tinggal di sana, ternyata pendeta Nasibin itu memang baik. Aku mengabdi dan belajar dengannya sehinggalah beliau wafat. Setelah ajalnya sudah dekat, aku berkata kepadanya, "Guru sudah tahu perihalku maka kepada siapa harusku berguru seandainya guru meninggal?"Jawabnya, "Hai, anakku! Aku tidak tahu lagi pendeta yang masih memegang teguh agamanya, kecuali seorang pendeta yang tinggal di Amuria. Hubungilah dia!"Aku pergi menghubungi pendeta di Amuria itu. Makakuceritakan kepadanya pengalamanku.Katanya, "Tinggallah bersama kami!Dengan petunjuknya, aku tinggal di sana sambil mengembala kambing dan sapi. Setelah guruku sudah dekat pula ajalnya, aku berkata kepadanya,"Guru sudah tahu urusanku. Maka kepada siapakahlagi aku akan anda percayai seandainyaguru meninggal dan apakah yang harus kuperbuat?"Katanya, "Hai, anakku! Setahuku tidak ada lagi di muka bumi ini orang yang berpegang teguh dengan agama yang murni seperti kami. Tetapi sudah hampir tiba masanya, di tanah Arab akan muncul seorang Nabi yang diutus Allah membawa agama Nabi Ibrahim.Kemudian dia akan berpindah ke negeri yang banyak pohon kurma di sana, terletak antara dua bukit berbatu hitam. Nabi itu mempunyai ciri-ciri yang jelas. Dia mahu menerima dan memakan hadiah, tetapi tidak mahu menerima dan memakan sedekah. Di antara kedua bahunya terdapat tanda kenabian. Jika engkau sanggup pergilah ke negeri itudan temuilah dia!"Setelah pendeta Amuria itu wafat, aku masih tinggal di Amuria, sehingga pada suatu waktu segerombolan saudagar Arab dan kabilah "Kalb" lewat di sana. Aku berkata kepada mereka, "Jika kalian mahu membawaku ke negeri Arab, aku berikan kepada kalian semua sapi dan kambing-kambingku."Jawab mereka, "Baiklah! Kami bawa engkau ke sana."Maka kuberikan kepada mereka sapi dan kambing peliharaanku semuanya. Aku dibawanya bersama-sama mereka. Sesampainya kami di Wadil Qura akuditipu oleh mereka. Aku dijual kepada seorang Yahudi. Maka dengan terpaksa aku pergi dengan Yahudi itu dan berkhidmat kepadanya sebagai hamba. Pada suatu hari anak saudara majikanku datang mengunjunginya, iaitu Yahudi Bani Quraizhah, lalu aku dibelinya daripada majikanku.Aku berpindahke Yastrib dengan majikanku yang baru ini. Di sana aku melihat banyak pohon kurma seperti yang diceritakan guruku, Pendeta Amuria. Aku yakin itulah kota yang dimaksud guruku itu. Aku tinggal di kota itu bersama majikanku yang baru.Ketika itu Nabi yang baru diutus sudah muncul. Tetapi baginda masih berada di Makkah menyeru kaumnya. Namun begitu aku belum mendengar apa-apa tentang kehadiran serta da'wah yang baginda sebarkan kerana aku terlalu sibuk dengan tugasku sebagai hamba.Tidak berapa lama kemudian, Rasulullah saw. berpindah ke Yastrib. Demi Allah! Ketika itu aku sedang berada di puncak pohon kurma melaksanakan tugas yang diperintahkan majikanku. Dan majikanku itu duduk di bawah pohon. Tiba-tiba datang anak saudaranya mengatakan, "Biar mampus Bani Qaiah!( kabilah Aus dan Khazraj) Demi Allah! Sekarang mereka berkumpul di Quba' menyambut kedatangan lelaki dari Makkah yang mendakwa dirinya Nabi."Mendengar ucapannya itu badanku terasa panas dingin seperti demam, sehingga aku menggigil kerananya. Aku kuatir akan jatuh dan tubuhku akan menimpa majikanku. Aku segera turun dari puncak ponon, lalu bertanya kepada tamu itu, "Apa kabar anda? Cubalah khabarkan kembali kepadaku!"Majikanku marah dan memukulku seraya berkata,"Ini bukan urusanmu! Kerjakan tugasmu kembali!"Keesokannya aku mengambil buah kurma seberapa banyak yang mampu kukumpulkan. Lalu kubawa ke hadapan Rasulullah saw..Kataku "Aku tahu tuan orang soleh. Tuan datang bersama-sama sahabattuan sebagai perantau. Inilah sedikit kurma dariku untuk sedekahkan kepada tuan. Aku lihat tuanlah yang lebih berhak menerimanya daripada yang lain-lain." Lalu aku hulurkan kurma itu ke hadapannya.Baginda berkata kepada para sahabatnya, "silakan kalian makan,...!" Tetapi baginda tidak menyentuh sedikit pun makanan itu apalagi untuk memakannya.Aku berkata dalam hati, "Inilah satu di antara ciri cirinya!"Kemudian aku pergi meninggalkannya dan kukumpulkan pula sedikit demi sedikit kurma yang terdaya kukumpulkan. Ketika Rasulullah saw. pindah dari Quba' ke Madinah, kubawa kurma itu kepada baginda.Kataku, "Aku lihat tuan tidak mahu memakan sedekah. Sekarang kubawakan sedikit kurma, sebagai hadiah untuk tuan."Rasulullah saw. memakan buah kurma yang kuhadiahkan kepadanya. Dan baginda mempersilakan pula para sahabatnya makan bersama-sama dengannya. Kataku dalam hati, "ini ciri kedua!"Kemudian kudatangi baginda di Baqi', ketika baginda menghantar jenazah sahabat baginda untuk dimakamkan di sana. Aku melihat baginda memakai dua helai kain. Setelah aku memberi salam kepada baginda, aku berjalan mengekorinya sambil melihat ke belakang baginda untuk melihat tanda kenabian yang dikatakan guruku.Agaknya baginda mengetahui maksudku. Maka dijatuhkannya kain yang menyelimuti belakangnya, sehingga aku melihat dengan jelas tanda kenabiannya.Barulah aku yakin, dia adalah Nabi yang baru diutus itu. Aku terus memeluk bagindanya, lalu kuciumi dia sambil menangis.Tanya Rasulullah, "Bagaimana khabar Anda?"Maka kuceritakan kepada beliau seluruh kisah pengalamanku. Beliau kagum dan menganjurkan supaya aku menceritakan pula pengalamanku itu kepada para sahabat baginda. Lalu kuceritakan pula kepada mereka. Mereka sangat kagum dan gembira mendengar kisah pengalamanku.